Kamis, 02 April 2015

Gagal ke Bangladesh

Jadi,rencananya dalam trip asia selatan saya mau memasukan negara bangladesh sebagai salah satu tujuan saya.Karena berkunjung ke negara tersebut membutuhkan visa sedangkan dalam trip saya visa utama yang paling penting adalah visa India maka visa india harus didahulukan pembuatannya dan mau nggak mau saya harus mengurusnya melalui kedutaannya yang ada di Jakarta karena saya membutuhkan multiple entry yang nggak bisa didapatkan di bandara-bandara India dengan visa on arrival.

Bendera Bangladesh (www.shuttershock.com)

Setelah mendapatkan visa india multiple entry ,langkah selanjutnya seharusnya kan saya apply visa bangladesh tapi karena saya orangnya nyantai dan kepedean bisa apply dinegara ke tiga.Ya udahlah nanti aja apply pas saya di Kolkata lagipula kota itu ada konsulat Bangladeshnya dan membaca di forum-forum traveler banyak yang bilang mudah dan nggak ribet.Lagipula apply visa Bangladesh di jakarta nggak seefisien seperti membuat visa India salah satu yang bikin males yaitu Surat keterangan kerja yang nggak diperlukan waktu membuat visa India.



Konsulat Bangladesh di Kolkata letaknya nggak jauh-jauh banget dari daerah backpacker sudder street, tempat saya menginap tepatnya di circus avenue.Dari pagi saya sudah menyiapkan diri untuk berpenampilan sebaik-baiknya demi sebuah visa,berkemeja lengan panjang dan memakai sepatu walaupun sepatu trekking.Berjalan menyusuri jalan raya yang sangat ramai sampai akhirnya saya tiba di depan gedung konsulat setelah saya bertanya -tanya orang lokal .Gedung Konsulat Bangladesh cukup besar sayangnya benderanya nggak kelihatan jadi seperti menyerupai rumah tinggal  saja.

Bagi yang mau membuat visa dan urusan consular lainnya ada loket khusus disamping yang menyatu dengan gedung jadi pengunjung nggak diperbolehkan masuk ke dalam gedung.Anehnya ,loket tersebut letaknya benar-benar dipinggir jalan tanpa dipagari dan banyak orang lalu lalang karena dibelakangnya pemukiman penduduk.Biasanya kan kedutaan maupun konsulat pagarnya tinggi dan butuh pemeriksaan ketat untuk masuk kedalamnya.

Banyak orang-orang yang berkerumun di depan loket entah orang India ataupun orang bangladesh,mulanya saya disapa salah satu orang dan menanyakan maksud kedatangan saya.Setelah saya jelaskan ,dia bilang nggak bisa membuat visa disini .Nah lho

Berkas - berkas yang dipelukan untuk pengajuan visa saya berikan ke petugas visa yang pelit ngomong.Paspor saya dibuka lembar demi lembar kemudian semua berkas diberikan kembali kepada saya .Ternyata saya nggak bisa membuat visa disini karena bukan Permanent Residence India.Saya harus apply di Jakarta katanya,makasih dah.Memang peraturan sebuah kedutaan sering berubah-ubah jadi sebagai traveler harus sudah siap menerima apabila sesuatu yang kita harapkana tidak terkabul

Antrian dibelakang saya ada 2 orang turis suami istri dari jepang dan Rusia.Saya melipir sedikit dengan maksud mau nguping dan sedikit kepo,apakah perlakuan petugas visa berbeda antara saya dan kedua turis itu.Mereka memberikan setumpuk berkas yang lebih tebal daripada saya ,petugas memeriksa pasport dan kemudian dikembalikan lagi persis seperti apa yang dilakukan terhadap saya.

Wajah kedua turis itu sepertinya shock karena mereka telah mempunyai tiket pulang Dhaka (ibukota Bangladesh) -Tokyo yang sudah confirm.Kemudian mereka memohon kepada petugas loket untuk mempertimbangkannya,si petugasnya pun membawa berkas -berkas masuk ke dalam ruangan menemui (mungkin) atasannya  dan hasilnya nggak berubah sama sekali.

Saya menghampiri mereka yang sedang menyeruput chai dengan bibir bergetar, tampaknya mereka sedang memikirkan langkah yang terbaik.Saya menyarankan agar mereka minta visa transit saja atau terbang ke Dhaka dengan faslitas visa on arrival.Mereka mencoba tetap ingin bertemu muka dengan petinggi di konsulat tersebut dan memohon agar terkabul permintaan visanya.Saya mengucapkan good luck dan pergi meninggalkan mereka,entah bagaimana nasibnya kedua turis tersebut pada akhirnya.

Setelah sebulan keluyuran di asia selatan ,perjalanan pulang menuju jakarta mengharuskan saya transit di bandara kuala lumpur.Ketika itu saya mengenakan jersey cricket bertuliskan bangladesh berwarna hijau ngejreng dan merah yang saya beli di colombo srilanka.Ketika sedang memilih milih makanan disebuah foodcourt saya ditegur oleh seorang penjaga stand makanan berwajah asia selatan,sambil senyum-senyum dia berkata

"Hey kamu baru dari Bangladesh ya?"
"Kampung halaman saya tuh"
"Asyik kan disana"

"Ho oh asyik banget bro" *dengan nada sedikit geram*








Tidak ada komentar:

Posting Komentar