Kamis, 08 Juni 2017

Polisi Ngehek Bishkek


Ketika ngobrol-ngobrol dengan Arsya ,(perempuan Kyrgyzstan yang saya temui di bandara Novosibirsk) doi bilang agar sealu berhati-hati jika bertemu polisi dan orang-orang local yang sedang nongkrong-nongkrong di pinggir jalan terutama anak mudanya .Salah satu hal yang membuat para turis nggak merasa nyaman, yah polisi ini.Sudah banyak kejadian yang menimpa para turis dan menjadi topik hangat yang sering diperbincangkan diforum-forum traveler.Saya sih mengiyakan aja atas saran-saran Arsya untuk sebisa mungkin menghindari polisi dan jangan sekali-kali berurusan dengan makhluk ini.

Hari pertama jalan –jalan menyusuri jalanan protokol pada siang hari di kota Bishkek ,saya sih merasa aman-aman aja dan emang nggak pernah lihat polisi yang sedang ngetem ataupun patroli.Padahal saya pun sempat lama-lama nongkrong di ala too square ,alun-alun kota Bishkek yang sudah pasti setiap saat ramai tapi semua lancar jaya 
.
Taman di Bishkek

Pada akhirnya saya janjian dengan teman baru saya di restoran dekat alun-alun tersebut sore harinya.Keasyikan ngobrol dengan bahasa Indonesia membuat saya nggak ngeh hari sudah gelap dan kota ini ketika malam nggak terang benderang ,minim cahaya lampu.Saya jadi teringat pesan arsya yang kedua yaitu menghindari anak-anak muda yang sedang nongkrong-nongkrong di pinggir jalan.Kebetulan hostel saya lumayan jauh dari alun-alun .Hostel saya di bagian utara sedangkan teman saya di bagian selatan jadinya kami berpisah.

 
Pulang ke hostel harus melewati beberapa blok jalan dan sumpah ,saking waspadanya ketika saya melewati trotoar yang gelap ,saya melipir agak ketengah jalan yang terang.Trotoar di kota ini nggak seperti layaknya ibukota negara,trotoarnya jalan tanah berbatu ,remang-remang bahkan cenderung gelap udah gitu banyak pohon-pohon besarnya.

Baru jam 7 suasana tampak lengang, kendaraan pun nggak sebanyak Jakarta.Pokoknya agak-agak scary lah,mungkin otak saya udah di doktrin oleh arsya dan di benarkan oleh kalimat-kalimat yang ada di buku garis batas-nya Agustinus wibowo.
Di depan sebuah hotel mewah tiba-tiba saya dikejutkan oleh  sebuah  mobil polisi  yang langsung mengerem mendadak dan berhenti persis di depan saya.Tiga orang polisi berseragam hijau menghentikan langkah saya,Awalnya polisi-polisi tersebut mengajak berbicara dengan bahasa Rusia.Karena saya juga nggak ngerti mulailah mereka menggunakan bahasa inggris walaupun patah-patah.
Pertanyaan standard seperti mau kemana ,dari mana sudah saya jawab dan benar saja mereka menanyakan paspor .Setelah paspor saya berikan dan mereka membuka lembar demi lembar  dan memeriksa visa Kyrgyzstan saya dengan sorotan lampu senter.saya sih masih cuek aja sambil berharap nggak ada permintaan macam-macam lagi.
Paspor dikembalikan,saya hampir mau beranjak pergi tapi salah seorang polisi meminta saya mengeluarkan dompet,awalnya saya tolak buat apa pula polisi memeriksa dompet,tapi polisi tersebut setengah memaksa sambil menunjuk pistol yang ada dipinggangnya tujuannya mau nakut-nakutin saya kali..ya.Ya udah deh saya ngikutin aja apa maunya.

Aghh sial mana ada duit 100 usd pula didompet.Hari itu memang saya baru menukarkan sedikit som (mata uang kyrgyzstan) itupun beberapa som sudah terpakai untuk transport dan makan.Jadi didalam dompet hanya ada 100 usd dan rupiah pecahan kecil.Sedangkan beberapa som ada di dalam kantong jaket saya.

Satu persatu uang saya diperiksa ,didalam dompet ada beberapa lembar uang rupiah bergambar Pattimura dan Pangeran antasari  dan ringgit pecahan kecil,nah untungnya 100 usd nya saya selipin ditengah-tengah.Jadi ketika polisi ngehek itu mengecek seada-adanya dan tentunya saya deg-degan setengah mampus sambil berdoa dan berharap agar jangan sampe si Benyamin Franklin menampakan batang hidungnya diantara Patimura ,Pangeran antasari dan Tuank abdul Rahman.

Fiuhh ....saya menarik nafas lega ketika polisi ngehek itu mengembalikan dompet saya dan sepertinya tanpa mengambil sepeserpun uang saya.Sebagai ucapan "terima kasih" karena telah mengobok-obok dompet saya.Ketiga polisi itu saya kasih uang seribu perak yang saya punya.Sambil senyum yang dipaksain saya ucapkan Rahmat (terima kasih dalam bahasa asia tengah) sambil ngibrit tentunya berharap para polisi nggak mengejar saya lagi.

Sampai hostel saya masih sedikit agak shock sekaligus berkeringat,mengingat saya jalan setengah berlari agar cepat-cepat sampai di hostel.Dan langsung mengecek dompet Alhamdullilah nggak ada uang yang hilang.Sungguh pengalaman hari pertama yang menyebalkan di negeri yang indah ini.

.bersambung



Tidak ada komentar:

Posting Komentar